Belajar memaknai hidup yang indah maupun yang sedih, karena "It always has to be dark for the stars to appear"

Minggu, 21 Agustus 2011

3 Tahun Berlalu

Di suatu weekend yang menjemukan, setelah berkutat dengan angka-angka di Microsoft Excel, saya rehat sejenak dan iseng-iseng membuka file-file lama yang tersisa di Hard Disk. Saya tertarik pada sebuah folder berjudul “File2 Kuliah”, di dalamnya berisi file pra desain pabrik, skripsi, kerja praktek, juga beberapa CV dan Application Letter dengan berbagai nama perusahaan (hahahahaha... itu nama-nama perusahaan yang tidak beruntung yang telah menolak saya).
Saya membuka folder “Skripsi” yang ada di paling atas dan membacanya mulai dari abstrak saja.  Alamaaak... Arogel, metode sol gel,  agen pemodifikasi??? Apa ya itu??? Hehehehe...  Saya sengaja tidak melanjutkan ke bab selanjutnya, takutnya otak saya jadi overload, nanti malah lupa sama evaluasi kerja sama operasional yang sedang saya kerjakan dari kemarin.
Oke, berpindah ke folder selanjutnya judulnya “Pabrik buat Pak Heru”, pabrik Amoniak dari Batubara yang bakal langsung ambruk kalau didirikan sesuai desain saya. Hehehehe...ya wajar lah..yang ngerjain juga 2 orang  lulusan SMA waktu itu. Saya buka analisa ekonomi-nya saja karena paling tidak istilah-istilanya masih saya geluti sampai sekarang. Ternyata masih sama terkejutnya saya dengan asumsi-asumsi yang dulu pernah saya buat untuk estimasi berbagai biaya yang sepertinya kok agak dramatis ya?? Bahkan ada juga yang  sangat minim. Selain itu ada juga grafik-grafik dan persamaan-persamaan untuk penentuan konstanta yang saya gak ngerti maksudnya. Lhoo????
Lucu memang, saya buka semuanya sekilas satu-per satu sambil senyum-senyum kecil. Dulu kedua item itu adalah permasalahan terbesar dalam tahun terakhir perkuliahan saya. Tapi sekarang setelah baru 3 tahun berlalu saya bahkan lupa judul lengkap skripsi saya. Kira-kira apa ya yang tertinggal di memori saya dari 4 tahun perkuliahan saya di kampus tercinta?? Selain pacar (karena sekarang masih sama), sahabat-sahabat yang luar biasa, plasa tekim, bangku taman, harga nasi campur Bu Tomo Rp 2.500 dengan lauk ayam, harga bakso setiap itemnya Rp. 500, soto pengenceran dan es teh recycle Mak Yaud, lab Nano di pojokan lt. 4, lab Elkim yang seperti rumah hantu. Semuanya serba intermezo atau hanya pengiring dari perjalanan 4 tahun itu.
Bagaimana dengan Transfer momentum, Termodinamika, Teknik Reaksi Kimia, Desain Proses dan yang lainnya??? Ya tentu saja satu jawabnya, “Sudah  lupaa tuh”

Jumat, 12 Agustus 2011

Perpisahan yang (Tak) Menyedihkan

In each tear
there’s a lesson, (there’s a lesson)
Make you wiser than before ( wiser)
Makes you stronger than you know (stronger)
In each tear (each tear)
Bring you closer to your dreams
No mistake, no heartbreak
Can take away what your meant to be

Mary J Blige-Each Tears

This is the way you left me,
I'm not pretending.
No hope, no love, no glory, No Happy Ending.
This is the way that we love, Like it's forever.
Then live the rest of our life, But not together.

Mika- Happy Ending

kedua lagu favorit saya tersebut menceritakan kisah yang relatif sama, tentang perpisahan. Tetapi berbeda dengan lagu-lagu yang lain  yang menimbulkan atmosfer yang mendayu-dayu dan syair serta aransemen musik yang menyayat hati, kedua lagu ini justru dengan irama yang sedikit nge-beat. Syairnya juga lebih menyayat perasaan menurut saya, karena menceritakan sebuah perpisahan yang dihadapi dengan optimisme dan lapang dada. Mungkin jika divisualisasikan seperti seseorang yang sedang meneteskan air mata sambil tersenyum dan berkata, "Aku merelakanmu pergi.."
Perpisahan dengan siapa pun dengan alasan apapun dan dalam kondisi apapun pasti relatif mengecewakan, Kerelatifannya bergantung pada suatu komponen hati yang amat sangat dicapai yaitu Ikhlas. Menurut saya mengikhlaskan kepergian seseorang adalah fungsi koordinasi yang amat kompleks antara hati dan pikiran yang bahkan manusia dengan tingkat ketakwaan yang tinggi terhadap Tuhan YME pun belum tentu dapat mengaplikasikannya.
yang pergi biarlah pergi...karena yang pergi memang bukan yang abadi...
yang abadi tidak akan pernah pergi, karena Ia selalu ada dalam hati..

Happy Fasting

Rabu, 27 Juli 2011

Ibu dan Mama..

Kriiiing....Kriiiing....
Aku : Halo...
Penelepon : Halo.. Ibu nya ada??
Aku : Ibu??
Penelepon : ini rumahnya Bu Tisna kan?? Bu Tisna ada??
Aku : Owh mama...bentar ya...
Penelepon : @$&*%$???

Kriiiing...Kriiing....
Mas Bro: Halo...
Penelepon : Halo... mamanya ada??
Mas Bro: Owh ibu?? Klo ibu ada klo mama gak ada...
Penelepon: @%^*)^???

NB: Kami hanya punya satu orang tua perempuan lho....(entar dikira mama dan ibu orang yang berbeda lagi..)
Kata mas bro, panggilan mama itu terlalu “menye-menye” kedengaran manja dan gak dewasa
Tapi buatku Ibu itu bisa ada banyak, ibu guru, ibu tukang  sayur, ibu tukang cuci dan ibu-ibu yang lainnya.. Tapi klo mama hanya ada 1 di dunia ini...

Sabtu, 23 Juli 2011

Kita dan Es Krim

Setiap sama Yuri pasti ada Es Krim
Terima kasih Niken, atas waktunya menemaniku yang sedang kalap belanja.. Kapan-kapan kita cari Es Krim yang lebih lembut lagi ya...

Senin, 18 Juli 2011

Count On Me- Bruno Mars

For all my friend...
Senang memiliki kalian di dunia ini ^_^
That's what are friends supposed to do

Rabu, 06 Juli 2011

We can

Karena hidup adalah pilihan, maka aku memilih untuk berjuang bersamamu...
Menegakkan kepala dan memandang positif segala kemungkinan
Niscaya tidak ada sesuatu hal pun di dunia ini yang tidak mungkin.
 WE CAN MAKE IT HAPPEN

Jumat, 01 Juli 2011

Orang Miskin Dilarang Sekolah

Belakangan  saya dikejutkan oleh beberapa fakta yang mencengangkan dari dunia pendidikan di negeri kita tercinta ini, entah apakah saya yang kurang informasi atau memang ini sudah dianggapa "biasa"

Pertama:
Beberapa saat yang lalu obrolan di sebuah milist alumni SMA tempat dulu saya belajar sedang ramai membicarakan tentang SPP yang nominalnya  sudah mencapai Rp. 200.000. Nilai itu jauh lebih mahal dari jaman saya bersekolah disana. Status RSBI pastinya jadi satu-satunya alasan nominal SPP yang bernilai internasional tersebut. Dan betapa lebih terkejutnya saya ketika tadi malam saya berbincang-bincang dengan ibu saya yang masih berstatus guru SMA, bahwa sekarang sudah tidak ada SMA yang SPP dibawah 100 rb bahkan untuk sekolah negeri pinggiran ecek-ecek sekalipun...

Kedua:
Salah seorang adik sepupu saya saat ini sedang duduk di kelas 2 SMA dan berasal dari keluarga yang kurang mampu, sekarang kakaknya sedang menempuh kuliah di semester 4 dan biayanya gotong-royong ditanggung keluarga besar kami. Pastinya akan sangat berat ketika si adik akan menempuh kuliah pula. Maka saya pun memulai mencari informasi beasiswa ataupun jalur penerimaan masuk PTN dengan biaya yang paling rendah. Rujukan saya pastinya di alumni tercinta donk yang dulunya digembar-gemborkan sebagai kampus perjuangan, apalagi adik saya tadi juga berminat mengambil jurusan teknik. Keterkejutan saya yang pertama adalah tentang daya tampung mahasiswa dari jalur SNMPTN ujian tulis hanya sekitar kurang lebih 30% dari total mahasiswa keseluruhan, itu sih sudah biasa sebenarnya mengingat saat saya masih kuliah dulu saja penerimaan dr SNMPTN (dulu SPMB) pernah mencapai hanya 50% saja. Keterkejutan yang lebih fantastis lagi adalah ketika membaca nominal SPI, atau gampangnya uang pangkal yang tertulis Rp 5 juta dengan dibelakangnya ada tulisan "minimal" yang dicetak tebal. Bahkan di sebuah harian nasional tertulis bahwa SPI ini bisa mencapai Rp. 40 jta-Rp. 100 jta disesuaikan dengan jurusan dan tingkat penghasilan orang tua.

untuk kasus pertama, hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan apa sih fungsi sekolah RSBI? apakah hal tersebut menjamin lulusannya benar-benar berstandard internasional? ataukah cuma berkelas internasional dalam hal contek masal dan kalau sudah dewasa mahir dalam konspirasi penggelapan uang negara, pemalsuan dokumen negara, dan kemudian kabur menjadi buronan internasional?

untuk kasus kedua, apa sih sebenarnya SNMPTN? Saya baru tahu bahwa ganti-ganti nama ternyata juga merubah sasaran, dahulu semua orang mulai dari anak tukang becak sampai anak Jendral boleh ikut dengan kompetisi yang fair dengan sumbangan yang "pantas" untuk sebuah  kampus perjuangan yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi "From Zero to Hero". Tapi sekarang??
Memang ada banyak sekali beasiswa yang ditawarkan, mulai dari yang Beasiswa Bidik Misi yang ditawarkan Dirjen DIKTI sampai yang ditawarkan pihak swasta. Tapi sepertinya  hanya mereka yang berotak "Super" saja yang bisa menembusnya karena pasti kita sudah tau donk berapa jumlah penduduk miskin di Indonesia jika dibandingkan dengan kuota penerimaan beasiswa, itu belum termasuk dengan penduduk yang "mendadak" memiskinkan diri. Jadi buat calon peserta didik yang berotak lumayan, standard atau diatas rata-rata saja tetapi memiliki kemampuan ekonomi yang lemah, lebih baik kubur saja keinginannya untuk kuliah dan segera bersiap-siap jadi TKI atau buruh tenaga kerja murahan.

Benar juga kalau jaman sudah berbalik, berbalik kembali seperti era penjajahan dulu. Jaman dimana hanya anak pejabat, saudagar dan golongan ningrat saja yang boleh bersekolah. Bedanya dulu kita dikekang agar tidak berkembang oleh bangsa lain, tapi sekarang kita justru dikekang oleh bangsa kita sendiri...

Alangkah lucunya negeri ini....